Bangkalan — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menggelar Festival Pendidikan di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer UTM, Rabu malam,( 23/09/2026).
Kegiatan mengusung tema “Membaca Rapor Pendidikan Kita: Suara Mahasiswa dan Fakta Media”. Forum tersebut menjadi ruang diskusi untuk membaca kondisi pendidikan melalui perspektif mahasiswa, aktivis dan media.
Ketua BEM FKIP UTM, Dimas Hanafi Putra, dalam sambutannya menyerukan semangat mahasiswa untuk tidak hanya menjadi penonton terhadap persoalan pendidikan.

“Pendidikan adalah persoalan bersama. Mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton, tetapi harus berani membaca persoalan, menyuarakan temuan dan ikut mendorong perubahan,” ujar Dimas.
Ia menilai, forum pendidikan semacam itu penting untuk mempertemukan gagasan mahasiswa dengan realitas pendidikan yang terjadi di masyarakat.
Sementara itu, Maulana Nazil Al Haq, Presiden Mahasiswa Universitas Negeri Malang (Presma UM), menyampaikan pandangannya dari perspektif aktivis mahasiswa.
Menurutnya, persoalan pendidikan tidak cukup dibaca melalui kebijakan maupun angka statistik, tetapi harus dilihat dari pengalaman masyarakat yang menerima dampak langsung kebijakan pendidikan.
“Aktivisme mahasiswa harus hadir untuk membaca persoalan pendidikan secara kritis. Data penting, tetapi mahasiswa juga harus mampu melihat realitas di balik data tersebut,” kata Maulana.
Dari perspektif jurnalistik, M. Khairul Umam menyoroti pentingnya data dalam membedah persoalan kemiskinan, pendidikan, khususnya terkait angka putus sekolah di Kabupaten Bangkalan.
Pria yang menjabat Ketua Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP) itu menyebut, persoalan pendidikan perlu dikaji lebih fokus karena angka partisipasi pendidikan menunjukkan adanya kesenjangan antarjenjang.
Berdasarkan data BPS Kabupaten Bangkalan, Angka Partisipasi Sekolah (APS) pada 2023 mencapai 99,75 persen untuk kelompok usia 7–12 tahun dan 95,68 persen untuk usia 13–15 tahun. Namun, pada kelompok usia 16–18 tahun, APS turun menjadi 53,34 persen.
Pria yang juga berprofesi dosen itu menambahkan, data yang sama juga menunjukkan rata-rata lama sekolah (RLS) Kabupaten Bangkalan pada 2023 baru mencapai 5,99 per-tahun. Sementara Harapan Lama Sekolah (HLS) berada pada 11,97 per- tahun.
Selain itu, data pendidikan Kemendikdasmen per September 2026 menunjukkan terdapat 18 kecamatan di Kabupaten Bangkalan dengan jumlah peserta didik yang cukup besar. Namun, sistem data tersebut juga masih mencatat adanya residu data peserta didik, baik terkait NISN maupun data kependudukan.
“Dalam catatan Tan Malaka, jadikan setiap tempat sebagai sekolah dan jadikan setiap orang sebagai guru. Pendidikan salah satu senjata melawan kemiskinan dan kebodohan,” jelasnya.
Ditambahkannya, angka kemiskinan di Madura tidak sebanding lurus dengan sumber daya alam (SDA) yang ada. Pengeboran migas, garam dan tembakau menjadi salu ikon dalam perekonomian Madura.
“Angka kemiskinan tertinggi di Jatim tercatat berada di Kabupaten Sampang, Bangkalan dan Sumenep, hanya Pamekasan yang saat ini sudah tidak tercatat sebagai kabupaten miskin” tukasnya.
Penulis : Red











