Surabaya, 10 April 2026 — Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Indonesia (BEM PTMAI) Zona V Jawa Timur–Bali menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Timur, Jumat (10/4/2026).
Aksi ini merupakan bentuk sikap tegas mahasiswa dalam merespons berbagai peristiwa yang dinilai mencederai rasa keadilan publik serta menguatnya dugaan praktik impunitas dalam penegakan hukum di Indonesia.
Sekitar 1.000 massa aksi dari berbagai kampus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Jawa Timur dan Bali terlibat dalam aksi tersebut. Massa bergerak dari Universitas Muhammadiyah Surabaya menuju Gedung DPRD Jawa Timur dengan membawa tuntutan utama penegakan hukum yang adil, transparan, dan berpihak kepada korban.
Ketua Presma BEM PTMAI Zona V Jawa Timur–Bali, Nasrawi, menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk akumulasi keresahan mahasiswa terhadap sejumlah kasus yang dinilai belum memberikan keadilan substantif bagi masyarakat.
Ia menyebut mahasiswa tidak akan tinggal diam terhadap berbagai bentuk kekerasan, kelalaian, maupun dugaan penyalahgunaan kewenangan yang merugikan warga sipil.
Dalam pernyataan sikap resminya, BEM PTMAI Zona V Jatim–Bali menegaskan bahwa aksi ini merupakan hasil konsolidasi gerakan mahasiswa atas sejumlah kasus yang menjadi perhatian publik, di antaranya penyiraman air keras terhadap aktivis HAM Andrie Yunus, kasus meninggalnya seorang ibu di Kalideres akibat iring-iringan kendaraan militer, serta kasus peluru nyasar di Gresik yang melukai siswa SMP disertai dugaan intimidasi terhadap keluarga korban.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyerahkan 25 tuntutan resmi kepada DPRD Jawa Timur. Tuntutan itu mencakup desakan pengusutan tuntas secara transparan, penolakan terhadap segala bentuk impunitas, serta dorongan pembentukan Panitia Khusus (Pansus) di DPRD Jawa Timur.
Mereka juga mendesak agar seluruh proses hukum dilakukan melalui peradilan umum, termasuk keterbukaan identitas pelaku, aktor intelektual, dan perkembangan penanganan perkara kepada publik.
Selain itu, mahasiswa meminta adanya reformasi sistem peradilan militer, penguatan perlindungan warga sipil, serta pembentukan Tim Pencari Fakta independen oleh pemerintah pusat.
Ketua Presma Nasrawi dalam orasinya kembali menegaskan bahwa mahasiswa akan terus berada di garis depan dalam mengawal keadilan dan demokrasi.
“Jika keadilan menjauh dari rakyat, maka mahasiswa akan mendekatkannya kembali,” ujarnya.
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. BEM PTMAI Zona V Jatim–Bali menyatakan akan terus mengawal seluruh kasus hingga ada kepastian hukum yang adil dan berpihak kepada korban.
Penulis : Redaksi









