Membangun Kesejahteraan Madura: H. HER dan Peran Para Kiai dalam Mendukung Petani Tembakau dan Pendidikan Santri

Rabu, 8 April 2026 - 01:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pamekasan, 8 April 2026 – Di tengah kerumitan perekonomian Madura, hampir setiap keluarga memiliki cerita tentang perjuangan hidup. Namun H. Khoirul Umam atau H. HER, yang dikenal sebagai “Sultan Madura,” hadir sebagai sosok yang menghubungkan kepedulian sosial dengan langkah konkret ekonomi. Impiannya sederhana namun mendasar: tidak ada anak yang putus sekolah karena biaya, tidak ada rumah yang tak layak huni, dan masyarakat sejahtera.

“Tujuan saya adalah melihat Madura sejahtera. Anak-anak bisa sekolah, rumah warga layak huni, dan ekonomi masyarakat berjalan,” ujar H. HER di hadapan para ulama, pengusaha, dan petani.

Latar Masalah Petani Tembakau

Perjuangan ini bermula pada 2022, ketika H. HER dipanggil oleh Kiai Muhammad Rofie Baidowi, pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan. Kiai Rofie menceritakan kondisi para petani tembakau yang sering dirugikan pabrikan. Setahun untung, tiga tahun rugi. Akibatnya, banyak wali santri kesulitan membiayai pendidikan anaknya, bahkan membeli buku dan seragam menjadi masalah.

“Para petani tidak hanya kehilangan penghasilan, tetapi dampaknya terasa sampai ke pendidikan anak-anak mereka,” kata H. HER menirukan curhatan kiai.

Mencari Solusi Bersama Ulama dan Pengusaha

Merespons masalah ini, H. HER bersama ulama dari Madura dan Jawa Timur, serta pengusaha peduli, merancang langkah strategis: menstabilkan harga tembakau dan mengamankan penghasilan petani.

“Kalau pabrikan dibiarkan sendiri, mereka bisa seenaknya menurunkan harga dan memaksa petani merugi,” jelasnya.

330 pondok pesantren ikut serta mengumpulkan modal untuk membeli tembakau langsung dari petani. Modal yang dikumpulkan beragam, mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah. Salah satu kontributor besar adalah Pondok Pesantren Al Falah Sumber Jaya, yang menyalurkan modal miliaran rupiah.

Perputaran Dana dan Dampak Nyata

H. HER menjelaskan, dari 60 ton tembakau pertama yang dibeli, kini hasilnya mencapai Rp 4,133 miliar.

Dana ini digunakan untuk pendidikan, pembangunan rumah layak, dan mendukung ekonomi lokal. Ia menegaskan semua dana berasal dari pesantren dan pengusaha, murni dan bersih dari praktik ilegal atau korupsi.

“Ini bukan uang curian atau hasil merampok. Dana ini murni berasal dari kiai, pondok pesantren, dan pengusaha. Bahkan saya pernah meminjam bank demi membantu petani,” ujar H. HER.

Dampak nyata dari langkah ini sudah terlihat. Selama empat tahun terakhir, banyak petani mampu menyekolahkan anak-anaknya, memperbaiki rumah, dan membuka dapur layak. Ekonomi lokal pun ikut bergerak: pedagang nasi, penjual mainan, dan usaha kecil lainnya merasakan manfaat positif.

Pendidikan, Ekonomi, dan Solidaritas

H. HER menekankan, kontribusi pesantren dan ulama bukan hanya soal spiritual, tetapi juga soal ekonomi dan kesejahteraan sosial. Hampir 70 persen masyarakat Madura bergantung pada tembakau, 10 persen pada garam, dan 20 persen pada usaha lain. Jika perekonomian tembakau terganggu, seluruh ekonomi lokal ikut terhenti.

“Setiap langkah yang kita lakukan bertujuan mensejahterakan masyarakat. Anak-anak bisa sekolah, rumah diperbaiki, dan ekonomi bergerak. Semua ini hasil kerja sama dan komitmen,” katanya.

Komitmen Jangka Panjang

Kisah H. HER menunjukkan bagaimana kepedulian sosial dapat dijalankan melalui langkah konkret ekonomi. Madura kini bukan hanya pulau penghasil tembakau, tetapi laboratorium nyata tentang bagaimana pendidikan, ekonomi, dan solidaritas sosial berjalan seiring untuk kesejahteraan bersama.

Dengan strategi yang terencana dan dukungan pesantren serta ulama, H. HER membuktikan bahwa bisnis dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan, menciptakan ekonomi yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Gerakan Kemanusiaan BIP Tak Pernah Berhenti, Disabilitas Sumenep Jadi Bagian dari Keluarga Besar Kepedulian Tanpa Batas
Pengusaha Rokok Madura Kompak Tolak SKM Golongan III Nasional, Khawatir Industri Lokal Tertekan dan Ribuan Pekerja Terancam
Pemakaman Sang Ibunda Ainun Bani Jadi Lautan Manusia: Santunan Mengalir, Ribuan Warga Sambut Hangat Founder BIP Ali Zainal Abidin dengan Penuh Cinta
CV Ayunda Guncang Semarak Hardiknas SDN Barkot 3! JJS Berhadiah Umroh Jadi Puncak Antusiasme Ribuan Masyarakat
Sapi Kurban Jumbo 1 Ton Milik Founder BIP Ali Zainal Abidin Jadi Lambang Bakti Tak Terbatas kepada Almarhumah Ibunda Ainun dan Keluarga
Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol.
Setelah Terus Menerus Gugah Publik Lewat Sederet Aksi Sosial Besar, BIP Kini Hadirkan LBH Gratis, Bang Ali: Saya Hibahkan Hidup untuk Perjuangan Kemanusiaan
Resmikan Istana Tahfidz IAI Tihamah di Cirebon, Founder BIP Foundation Pilih Memuliakan Yatim dan Alquran demi Mengetuk Pintu Surga

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:59 WIB

Gerakan Kemanusiaan BIP Tak Pernah Berhenti, Disabilitas Sumenep Jadi Bagian dari Keluarga Besar Kepedulian Tanpa Batas

Senin, 1 Juni 2026 - 13:18 WIB

Pengusaha Rokok Madura Kompak Tolak SKM Golongan III Nasional, Khawatir Industri Lokal Tertekan dan Ribuan Pekerja Terancam

Sabtu, 30 Mei 2026 - 14:22 WIB

Pemakaman Sang Ibunda Ainun Bani Jadi Lautan Manusia: Santunan Mengalir, Ribuan Warga Sambut Hangat Founder BIP Ali Zainal Abidin dengan Penuh Cinta

Sabtu, 30 Mei 2026 - 09:53 WIB

CV Ayunda Guncang Semarak Hardiknas SDN Barkot 3! JJS Berhadiah Umroh Jadi Puncak Antusiasme Ribuan Masyarakat

Selasa, 26 Mei 2026 - 13:01 WIB

Tanah, Batalyon, dan Aroma Politik Parpol.

Berita Terbaru