Sumenep – Konferensi Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Pasongsongan sukses digelar pada Minggu, 12 April 2026, bertempat di Pondok Pesantren Al Furqon, Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus merumuskan arah gerak NU di tingkat kecamatan.
Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sumenep periode 2025–2030, KH Md Widadi Rahim, serta Camat Pasongsongan, Fariz Aulia Utomo. Turut hadir pula jajaran pengurus MWC NU Pasongsongan, Ketua Badan Otonom, Ketua Lembaga dan pengurus ranting NU se-Kecamatan Pasongsongan.

Dalam sambutannya, Camat Pasongsongan menekankan pentingnya menjaga dan meningkatkan sinergi antara pemerintah dan organisasi keagamaan. Ia berharap kolaborasi yang telah terjalin selama ini dapat terus diperkuat demi menjaga kondusifitas wilayah.
“Sinergi yang sudah dibangun pada tahun-tahun sebelumnya harus terus dilanjutkan dan ditingkatkan, demi menciptakan Pasongsongan yang aman, harmonis, dan progresif dalam pembangunan ke depan,” ujar Fariz.
Sementara itu, Ketua PCNU Sumenep, KH Md Widadi Rahim, menyoroti pentingnya tata kelola organisasi yang baik dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Ia mengingatkan bahwa penguatan struktur organisasi harus selaras dengan tema Muktamar NU saat ini, yaitu Menguatkan Akar, Mengukuhkan Barisan.

Menurutnya, seluruh program NU seharusnya lahir dari kebutuhan akar rumput, bukan bersifat top-down. Pendekatan berbasis bawah dinilai lebih relevan dalam menjawab tantangan umat di era modern.
“NU harus terus bergerak dari bawah. Program-program yang dijalankan harus benar-benar berasal dari kebutuhan jamaah, sehingga manfaatnya lebih nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menyinggung tantangan era digitalisasi yang kian kompleks. Para pengurus NU diharapkan mampu menjadi penuntun sekaligus pengawal gerakan berbasis massa agar tetap berada pada koridor nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
“Di era digital ini, kita dituntut bijak dalam menyikapi arus informasi. Pengurus NU harus hadir sebagai penjaga arah, agar gerakan umat tetap terarah, moderat, dan membawa kemaslahatan,” imbuhnya.
Konferensi ini diharapkan tidak hanya menjadi forum formal organisasi, tetapi juga menjadi ruang strategis untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun masyarakat Pasongsongan yang religius, rukun, dan berdaya saing di tengah perubahan zaman.










